3 Bulan Menjelang Tahun Baru 2017
Pada tahun 2006 rilis film CLICK yang
mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang arsitek Michael Newman yang diperankan oleh Adam
Sandler. Di dalam film ini Michael Newan diceritakan sebagai tokoh pekerja
keras, ulet tetapi cenderung menjadi karakter gila kerja yang lebih
mengutamakan karir dan sangat jarang menghabiskan waktunya bersama istrinya
Donna yang diperankan oleh Kate Beckinsale dan keuda anaknya. Namun hal
tersebut dilakukan oleh Newman semata mata karena ia ingin menaikan taraf
ekonomi keluarganya agar lebih baik lagi, oleh hal itu hampir setiap hari
Newman selalu menghabiskan waktunya untuk mengerjakan proyek – proyek pembangunan
dari kantornya.
Seiring berjalannya waktu Newman
merasa frustasi akan pekerjaannya, ia merasa kerja kerasnya selama ini tidak sesuai
dengan hasil yang didapat, lalu ia menjadi sering mengeluh ,dan gampang emosi
karena kehilangan waktu bersama dengan keluarganya.
Tetapi kehidupan Newman yang berulang
kali letih dan tak puas akan hasil yng telah didapat berubah 360 derajat ketika ia
mendapatkan remote universal yang biasanya digunakan di beberapa rumah mewah di
Amerika dari Morty yang diperankan oleh Christopher Walken, yang sejatinya
adalah Angel of Death bagi kehidupannya
dimasa depan kelak.
Lewat remote universal tersebut,
Newman diberi kesempatan untuk lebih menikmati hidup dimana ia dapat
mengendalikan waktu sesuai keinginannya dengan men – skip atau mempercepat kejadian yang membosankan baginya. Pada bagian
inilah unsur utama drama – komedi film tersebut diperlihatkan ketika Newman berulang
kali mengulang ulang kejadian yang membuatnya senang dan sering men-skip moment yang tidak ia suka.
Meskipun ia merasa senang karena
keberadaan remote tersebut tetapi sesungguhnya remote tersebut tidak sepenuhnya
membawa berkah untuk Newman. Karena seringkali men-skip moment moment yang tidak ia suka dan berulang kali memajukan
waktu ia semakin kehilangan waktu bersama keluarganya serta kehilangan moment
moment indah bersama Istri dan kedua anaknya. Pada bagian ini setelah
menunjukan kelucuan serta kekocakan Newman alur cerita film yang disutradai
oleh Frank Coraci tersebut cenderung mengharu biru ketika Newman melihat anak
anaknya tumbuh dewasa tetapi tidak dekat malah menjauh bahkan tak kenal lagi
dengannya bahkan istrinya memilih untuk
meningalkan Newman dan menikah dengan guru renang putranya, Billy.
Michel Newman begitu kesepian,
kesuksesan yang ia raih karena bantuannya remotenya sudah tidak berarti lagi,
dia hanya menjadi pria tua tanpa memiliki kenangan indah bersama orang orang
yang ia cinta. Kebersamaan yang dulu pernah ia rasakan ketika susah payah
bekerja dan pulang disambut dengan hangatnya keluarga serta anak anaknya yang
masih kecil dan mengemaskan hilang dan tak mungkin lagi terulang.
Alur dalam film ini sangat renyah
bagi penonton terkhusus untuk keluarga, selain menunjukan sisi komedinya juga mengajarkan
kepada kita akan berharganya waktu dan kebersamaan dengan orang yang kita
cinta.
Film garapan Columbia Picture
tersebut lagi lagi mengingatkan kepada kita yang seringkali merasa kehidupan
kita kekal, memiliki banyak waktu dan lebih mementingkan karir ketimbang orang
orang yang sejatinya mencintai kita.
Burnout Syndrome dalam Argogalih
(2005) berujar bahwa kecanduan kerja adalah gejala manajemen waktu yang buruk. Kecanduan
kerja juga bisa membuat manusia gila
kerja seolah olah memakai kacamata kuda yang tak pernah melihat kanan maupun
kiri dan fokus akan kesempurnaan pekerjaan yang diimpikan, terus saja mengejar
kesempurnaan di dunia ini padahal kesempurnaan hanyalah sebuah ilusi dan apa
yang diperoleh malahan menjauhkan diri dari orang orang yang dicinta karena
telah tenggelam asik pada dunia yang semu. Kita bisa saja membeli jam super
mahal dengan hasil susah payah kita bekerja, tetapi kita tidak akan pernah bisa
membeli waktu bersama kelurga kita, right?
Definisi waktu memang beragam,
waktu akan terasa cepat ketika sibuk, punyak banyak pekerjaan dan waktu akan
terasa lambat ketika kita tidak melakukan apa apa atau bosan dengan suatu hal.
Tetapi Ketika sudah bekerja keras namun merasa hasilnya tetap tidak sesuai
bahkan merasa belum melakukan apa apa, saat itu perlu untuk merfleksikan diri,
jangan sampai penyakit Masyarakat Urban yang kerapkali menjangkit masyarakat
perkotaan dengan manusia manusiaya yang lebih mementingkan karir daripada
hubungan sesama hinggap ditubuh dan menjadikan kita sebagai The Next Michael
Newman.
Refleksi diri, 3 bulan menjelang tahun
baru sudah melakukan apa saja kita?
Apakah sudah melakukan banyak
keajaiban atau malah stuck di tempat menyesali masa lalu dan menghawatirkan
masa depan. Waktu itu ilusi sekali lagi, kenyataanya masa lalu dan masa depan
terbentuk kareka abstraksi dalam pikiran kita, waktu hanya patokan tergantung
dialektika kita, seminggu, sebulan, setahun atau tujuh tahun. all depends on
the way we think.
Saat kita menoleh jauh
kebelakang, we will relieze that what we have been through just be a memory. And
we will understand that it is just the past. Sedangkan masa depan adalah ketika
kita merefleksikan sesuatu yang sama sekali belum terjadi.
Kadang kita merasa senang akan
masa depan yang kita refleksikan serta tak sabar untuk segera bertemunya, ketika
kita melalui moment membosankan kita ingin untuk cepat cepat menekan tombol skip atau mempercepat ke bagian yang
kita impikan.
Tatapi terkadang juga kita banyak
membuang waktu untuk menghawatirkan masa depan, mencemaskan atas apapun yang belum
terjadi, padahal belum saja kita melihat matahari terbit atau malah kita menyesali
masa lalu atas apa yang telah terjadi, menjadi sosok Michael Newman yang
bersedih karena waktu tak bisa terulang lagi.
Dan kita bisa melihat masa depan
dan masa lalu tersebut tepat ketika kita melihat jam yang kita punya sekarang
juga, ya betul! Sekarang juga. Waktu hanya ada tiga. Yesterday, Now and
Tomorrow and then we are now right at the present time. When we could see the
past and the future
Lalu yang perlu kita lakukan ketika
bertemu moment buruk, sial bahkan sedih tak perlu untuk cepat cepat menekan
tombol skip . all we need is just
stay present. Karena di preset moment adalah bagian alur cerita dimana kita
bisa melakukan dan menciptakan apa yang kita inginkan! Tidak ada masa lalu
tidak ada masa depan. Semua kejadian akan terjadi pada moment ini sesuai dengan
kehendak kita, itu perlunya kita tetap stay on present moment, tidak usah memainkan
remote atau mencoba untuk men-skip semua kejadian yang tidak kita inginkan, karena
kalau begitu darimana kita mendapat arti pembelajaran?
Always stay with family. Do not
be the person who only pursue their future goals. Because their future goals it
is only momentary, but the family will stay with you until die
Komentar
Posting Komentar