Satria #6

                
( 11 Februari 2012 , Hari kesebelas, tiga hari sebelum hari H)

Hari ini adalah hari ke sebelas Satria jalani hidup berwujud manusia, sudah banyak hari ia lewati bersama Enisa, setiap pagi tak pernah Satria meninggalkan Enisa dan setiap pagi pulalah mereka mengumbar senyum keakraban. Namun hari ini terasa berbeda bagi Satria, ia memasang wajah bingung.. di pintu depan kelas Enisa ia termenung memikirkan waktu yang semakin cepat berlalu. ia sadar jika tak lama lagi waktu yang dijanjikan habis, tetapi Satria juga belum temukan cara terbaik untuk meninggalkan Enisa, yang kini sudah sangat mencintainya.

Ia persis duduk di bangku depan kelas Enisa, berselimut kegundahan ia tunggu kedatangannya. Tapi ia masih tak tau harus memulai dari mana saat ia bertatap dengan Enisa, mungkinkah ia harus terus terang akan wujudnya yang sebenarnya ataukah pergi seketika tanpa sepengetahuan Enisa. Lalu kegundahan Satria kian memuncak tak kala ia lihat dari ujung lorong berjalan gadis anggun nan cantik yang amat disayangi Satria. Mata itu berkaca kaca, tersirat kebingungan yang sedang dirasa oleh Satria.

Berjalan lembut lalu ia tunjukan senyum senang saat ia melihat Satria, gadis itu kini menhampiri Satria yang masih tampak gelisah, tak lupa juga gadis itu menyapanya.
               
“Sudah dari tadi ya” Sembari ia lontarkan senyum manis yang dituju kepada Satria
              
Masih memasang wajah gelisah ia jawab teguran Enisa
Ia, udah dari tadi, aku nungguin kamu”
               
“emm apa ya.. ?” Lagi, gadis itu melontarkan senyum khasnya mencoba untuk membuat suasana riang
               
“iyah..” namun dijawab senyum lesu oleh Satria
“Kamu kenapa.. ? kok keliatan sedih..? lama nungguin aku ya..?” Ia bertanya polos masih tak tau apa yang sedang dirasa oleh Satria
           
Tetes air mata kini mulai keluar dari mata Satria, matanya kian berkaca kaca, air jernih itu kini berlinang, tetapi cepat capat ia sika dengan kedua tangannya agar gadis itu tak tau kesedihan yang ia rasa .
               
“Enggak kok.. enggak ada apa apa” Wajah kaku Satria tersirat, ia masih menyembunyikan kegundahannya. Dan karna tak ingin Enisa tau apa yang sedang ia rasa, ia putuskan utuk secepatnyaa mengakhiri obrolan itu.
               
“Sudah dulu ya, aku mau ke toilet” Pamit Satria meningalkan Enisa yang sedang duduk di sampingnya
               
Namun seketika Enisa langsung menyambar tangan Satria sembari terucap “Satria, tunggu aku ingin ngomong sama kamu..”               
               
Satria terkejut, karena jarang Enisa terlihat bernafsu ingin berbicara kepadanya, pegangan itu juga membuat Satria kaget.. karna tak pernah ia dapatkan pegangan hangat dari gadis itu. “Apa.. kamu mau ngomong apa?”
               
Susana terhening sejenak, lalu mulut kaku itu bersuara “Aku suka kamu satria” Suara lirih yang keluar dari mulut tipis Enisa membuat Satria terkejut, ia tak menyangka dugaannya beberapa hari ini benar. Namun dugaan yang sebenarnya ia harapkan berbanding terbalik dengan yang ia inginkan sekarang, ia tak mau Enisa jatuh cinta kepadanya, ia tak mau Enisa tersakiti oleh kebohongannya selama ini.
               
“Apa.. kamu suka aku.. ?” Satria bertanya kembali meskipun sesunguhnya ia sudah tahu jika benar gadis itu amat suka kepadanya
               
“Iya... aku benar benar suka sama kamu Satria” Kembali gadis itu memojokan Satria, sembari ia tunggu jawaban yang akan terlonta.
               
Namun Satria memilih untuk bungkam dan kemudian meninggalkan Enisa yang kini memasang pandangan kosong, Satria tinggalkan gadis itu sendiri di depan kelasnya. Satria tak mau terlalu dalam kenal dengan Enisa, ia ingin secepat mungkin mengakhirinya tapi apa daya ia sendiri bingung bagaimana cara untuk meninggalkan Enisa tanpa membuatnya sakit hati. Dirinya sadar jika hati Enisa sudah luluh olehnya namun ia benar benar mengerti tak akan mungkin hubungannya bisa berlanjut
               
Sedangkan Enisa kini tak tau apa yang sudah terjadi, ia tak percaya jika benar itu Satria yang selama ini ia kenal. Seribu pertanyaan mucul di angan angannya “Kenapa dia sperti itu” malah lebih komplek dengan apa yang sedang ia rasa. Raut mukanya masih menandakan jika ia saat ini sudah dibuat kasmaran oleh hantu berparas tampan itu, semakin ia memikirkan Satria semakin ia tak bisa melupakannya.
               
Bell pulang berbunyi, langkah kaki Enisa menyusiri lorong menuju toilet depan aula terlihat lemah gemulai, ia tampak sendiri tak seorang pun terlihat di sampingnya. Wajahnya pucat mungkin angannya lelah memikirkan pertemuannya dengan Satria tadi pagi. Dan kini tubuhnya menghadap ke salah satu dinding toilet paling pojok, lalu jari jemarinya mengambil sebuah benda berkilau yang berada tak jauh dari hadapannya.
               

Jari putih bersih itu mengorek dinding, menyayat suatu garis demi garis dan termaknalah sebuah kalimat yang berbunyi “Aku Enisa suka Satria”, namun tak begitu jelas tulisan itu karena terlihat ia gunakan serpihan kaca untuk menuliskan kalimat kalimat itu. Satria yang melihat dari kejauhan tampak gelisah, bagaiman tidak ia sudah membuat Gadis itu tergila gila olehnya. Dan kini ia dihadapkan oleh pilihan yang teramat sulit, hari pun juga tak berpihak dengannya, kini hanya tersisa 2 hari sebelum ia menjadi hantu lagi.

Komentar

Postingan Populer