Satria #5
( 07 Februari 2012 , Hari ketujuh, sisa tujuh hari
setelah perjanjian itu )
Hari ketujuh adalah hari minggu dan
seperti sekolah pada umumnya hari itu sekolah libur. Gedung bekas belanda itu
sepi begitu pula dengan lorong lorongnya, tak ada suara yang terdengar hanya
suara yang timbul dari gemricik air yang jatuh di kolam ikan. Di depan aula
Satria duduk memandangi ikan yang sedang berenang di kolam itu, wajahnya menyiratkan kepuasan atas
apa yang ia dapat akhir akhir ini, nampak jelas juga kalau ia sedang memikirkan
Enisa.
Jemarinya sedari tadi sibuk melamparkan beberapa batu ke kolam, tersirat menandakan
kalau memang benar ia sedenag di buat kasmaran. Namun berbeda dengan yang
dirasa oleh Isabell, hatinya amat perih melihat Satria yang makin dekat dengan
anak manusia itu. Ia nampaknya juga turut andil di lamunan Satria, lagi lagi
seperti biasa ia tak berani memunculkan sosoknya, tak tau karna apa mungkin
juga karna hatinya yang sedang sakit.
Ia pandangi Satria dari belakang masih
tanpa sepengetahuan Satria, di dalam hatinya ia merasa jika sudah di buat
cemburu oleh hantu berparas tampan itu dan didalam batinya pula ia dilema harus
memilih antara menyembunyikan rasa sesunguhnya atau malah menunjukan rasa yang
ia rasa, rasa jika ia sudah lama jatuh cinta kepada Satria, dan rasa itu kian datang tak
kala Satria mencoba untuk meninggakan kolam yang sudah cukup lama ia naungi.
Isabell
memberanikan diri, ia mendekat ke hadapan Satria dan....
“Satria, sedang
lamunin apa kau.. ?” tegur Isabell membuka pembicaraan
Tampak jelas raut muka Satria
menunjukan wajah gugup, mungkin karena telah lama tak berbincang bersama
Isabell “Enggak kok, enggak lamunin apa apa.. kamu sendiri di sini ngapain?”
Jawab lugu Satria coba menyembunyika rasa yang sedang ia rasakan
Namun Isabell sesunguhnya tau apa yang
ada di benak satria “Ah bohong, kamu pasti sedang memikirkan Gadis itu.. ?”
Tanya Isabell lagi dengan penuh rasa keingintahuan.
“Tidak, aku tidak memikirkan gadis itu”
Satria mengelak lagi
“Tak mungkin.. kau tak memikirkannya,
buktinya dari tadi kulihat kau senyum senyum terus” Diikuti senyum nafsu ingin
tau jawaban yang sesunguhnya.
Tetapi senyum Isabell tak dibalas baik
oleh Satria ,“Tidak.. ! tapi jika benar peduli apa kau padaku..?!”Hentak
Satria, karena sudah merasa terusik oleh pertanyaan lsabell.
Seketika Isabel sedih dengan reaksi
yang terlontar dari mulut Satria, ia juga sadar jika Satria masih marah
dengannya “Kenapa dengan mu.. ? apa salah ku bukannya aku hanya bertanya
tentang hubungan mu dengan anak hawa itu..” Balas Isaebell
“Diamlah ! Sebenarnya apa yang kau mau
dari ku.. ? Kenapa kau selalu mengusik aku !” Kemarahan satria menemui titk
pucaknya tak kala Isabell terus menerus menganggu Satria,
Kembali wajah Isabell
menunjukan ketakutannya, ia bertanya lagi kepada Satria sembari memegang
pipinya “Ada apa dengan mu Satria, apakah gadis itu sudah membuat mu lupa akan
hari hari riang ku bersama kamu, apakah gadis itu sudah mengantikan aku..
Satria sesunguhnya aku sudah lama suka kepadamu.. ?”
Lalu Satria bingung atas
apa yang diucapkan Isabell, ia baru tau kalau Isaebll suka sama dia.. namun
cepat cepat ia tepis ucapan Isabell sembari menjauhkan tangan isabell dari pipinya “Apa.. ? Apa
yang kau maksud.. ? Mengantikan apa maksudmu... oh itu ! tentang itu, kau hanya
teman tak akan lebih.. ! dan tentang rasa suka mu itu , AKU TAK SUKA PADAMU !”
Kali ini Satria benar benar menunjukan amarahnya, tetapi jawaban itu masih tak
jelas apakah benar asli dari benak Satria, ataukah hanya jawaban amarah yang
masih tak tentu karna seketika terucap.
Terlambat, kini Isabell
sudah amat kecewa dengan Satria. Rasa cinta dan setia yang telah lama ia
tunjukan kepada Satria hanya di balas hentakan amarah yang berujung membuat Isabell
menangis. Kembali Isabell mencoba menenangkan satria sembari mengenggam tangannya. lalu
terucap“Inikah balasan mu selama ini.. ? aku benar benar mencintaimu” Mata
isabell berkaca kaca memandangi Satria
“Sejak dulu ! aku tak pernah
mengharapkan bantuan mu !” tangan Satria memegang telapak tangan Isabell lalu menghempaskannya ke udara.
“Baik kalau itu balasanmu.. ! tapi
jangan lupa perjanjian mu dengan ku !” berbeda, kini Isabell membetak Satria dengan amarah
yang meluap meluap, Lalu lari meninggalkan Satria yang kini menunjukan
pandangan kosong
Suasana hening kini menyelimutinya,
perdebatan singkat itu diakhiri dengan pandangan kosong yang ditunjukan oleh
raut muka Satria . Kiranya ia sudah ingat atas perjanjianya dengan Isabell.
Wajah yang tadi menunjukan taringnya kini tertekuk lesu di pinggir kolam,
sembari melihat ikan yang berenanag tenang, lalu ia sadari jika hari sudah cepat
berlalu. Tetes air jernih ikut terjun ke heningnya kolam, ikan itu turut
menjadi saksi kegundahan hati Satria.
Mungkin kini Satria harus memutuskan
pilihan yang terbaik untuknya, pilihan meninggalkan gadis yang amat ia sukai
yaitu Enisa. Namun apakah bisa ia memilih pilihan itu sedangkan kini Enisa
sudah menunjukan rasa tertariknya kepada Satria. Lagi-lagi Satria dihadapi oleh
pilihan yang sangat sulit, baginya Enisa adalah segala galanya namun ia juga
sadar tak lama lagi ia akan berhenti berwujud manusia dan terpakasa pula ia
meninggalkan gadis itu.
Yang teramat jelas adalah kenyataan
jika Enisa sudah mulai memiliki rasa kepada Satria, kini pasangan itu sudah
saling suka malah Enisa ingin Satria tau tentang perasaannya. Hanya menunggu
waktu saja hingga rasa itu tiba.
- Bersambung -
Komentar
Posting Komentar