Harapan atau Omong Kosong Belaka
Beberapa minggu kemarin muncul berita seorang siswa SMA yang mengorok
leher driver taksi online, mobil
korban dibawa lari tersangka sedangkan mayatnya dibuang di jalan. Minggu
kemarin seorang mahasiswi di buang ke sungai oleh pacarnya, bersyukur nyawa mahasiswi
tersebut masih tertolong sedangkan pelaku kabarnya sudah tertangkap. Lalu baru
kemarin tepatnya Kamis tanggal 1 Februari 2018 terjadi kasus pemukulan guru
oleh muridnya, naas sorenya guru
tersebut walau telah dilarikan di rumah sakit nyawanya tidak tertolong.
Jujur saya sendiri jenuh apabila melihat “Bad News” yang sering lalu lalang menghias media massa dan kadang
bikin pesimis. Alih alih melihat “Bad
News” saya lebih sering mencari “Good
News” yang sering saya temukan di kanal Good News From Indonesia atau
berita sejenis yang semua bermuara untuk menjaga Harapan Tetap Ada. Saya
sependapat oleh founder GNFI Bapak Akhyari Hananto di gelaran TEDxTuguPahlawan,
ia menjelaskan pentingnya membangun rasa optimis untuk membangun Indonesia. Di
gelaran itu ia jelaskan produk produk Indonesia yang telah banyak berekspansi
ke luar negeri dan kekayaan yang tertimbun di negeri kita lebih banyak dari
utang negara tanpa banyak orang sadari. Di akhir sesi ia berkata “kita boleh kehilangan kesabaran tapi kita
tidak boleh kehilang harapan”.
Karenanya daripada pesimis, saya memilih untuk ikut peribahasa yang
sering didengung dengungkan, dimulai ketika Presiden Amerika John F Kennedy di
pidatonya atau saat Anies Baswedan menggunakannya sebagai tagline Indonesia
Mengajar, peribahasanya : Lebih Baik Menyalakan Sebuah Lilin daripada Megutuk
Kegelapan. Namun sekarang belum genap 2 bulan tahun 2018 berjalan kita telah
disuguhi aneka ragam berita “Bad News” yang menyayat hati karena pelakunya
utamanya ialah pemuda, sosok yang konon digadang gadang sebagai Agent of Change pembawa perubahan ke
arah lebih baik. Kesemua “Bad News” tersebut lalu memberikan ilham kepada saya
pribadi, bahwa terlalu naif jika mengesampingkan sesuatu yang tidak ingin
diketahui namun nyata terjadi. Lantas muncul pertanyaan bertolak dari “Bad
News” tersebut.
Apakah gegap gempita menyambut
bonus demografi tidak akan terjadi?
Apakah Indonesia Emas hanya
bentuk komunikasi politik?
Atau Apakah benar bahwa omong
kosong bonus demografi jika generasi mudanya tidak bermoral?
Dan lebih dari itu semua, Apakah
Harapan itu masih ada?
Mari kita merefleksi diri atas semua yang baru hangat terjadi di pembuka
tahun 2018. Mungkin Indonesia memang masih jauh dari kata sempurna, atau malah tidak akan pernah sempurna. Namun yang
pasti Indonesia tidak stagnan. Ia terus bergerak, walaupun langkahnya kecil dan
teratih ia terus bergerak ke arah lebih baik. Daripada muncul awan mendung
setelah melihat “Bad News” tersebut mari kita jadikan arena untuk merefleksikan
diri lalu kembali optimis dan bersama mencari solusi.
Komentar
Posting Komentar