Satria #2

( 01 Februari 2017 , Hari pertama, sisa 13 hari setelah perjanjian itu )

Raut muka itu amat tampak gusar, ia mencari cari Enisa di setiap ruang sekolah, namun ia tak juga temui Enisa. Lalu ia coba untuk pergi ke kelasnya, tetapi yang ia temukan hanya kelas kosong yang ditinggal penghunimya ke perpustakaan, ia masuki ruangan itu lalu melihat lihat setiap sudut kelas dan lewat itulah ia akhirnya tau jika Enisa tak masuk sekolah karna sakit. “Kenapa? Kenapa kau tak masuk sekolah !!” geram Satria di dalam hati sambil membanting sebuah buku,

 “Deg deg deg” tiba tiba ada yang datang, seketika membuat Satria terkejut. Suara dari buku yang dijatuhkan Satria tadi tampaknya telah mengundang seseorang untuk masuk ke ruangan itu. perempuan berkulit putih dan berkacamata tebal melihat sekeliling ruangan, yang ujung ujungnya masuk ke kelas tuk mengambil buku yang sudah dijatuhkan Satria. Ia langkahkan kaki menuju kehadapan Satria.

Dan lalu gadis itu melewatinya, Satria amat terkejut tak kala gadis berkacamata tebal tak mengetahui keberadaanya, bahkan gadis itu melewati tubuh manusianya. Ia pun meninggalkan kelas dan lari menuju kediaman Isabella.
“Apa yang kau lakukan kepada ku ?!.. kenapa gadis itu menembus tubuh ku..?! bukannya kemarin kau sudah menjadikan aku manusia ?!” seribu pertanyaan terlontar dari satria dengan raut muka memerah.

Langsung Isabella menjawab  teguran Satria “Memang benar aku jadikan kau seperti manusia.. tapi kau tak bilang selain di hadapan gadis yang kau damba dambakan itu !.. “

“Apa maksudmu.. apa maksud ucapanmu?” Ia bingung atas apa yang di jawab Isabella sembari muka memerah itu mulai sirna.

“Intinya.. Kau hanya bisa terlihat berwujud manusia jika di hadapan Enisa……

Suasana terhening sejenak tak kala Isabell menjawab pertanyaan Satria, tampak kebingungngan terpancarkan dari wajah tampan itu. Tak habis pikir, semakin sempit ruang gerak Satria untuk dekat dengannya, apalagi Satria juga sudah disibukkan seribu siasat menyembunyikan identitasnya sebagai hantu. Ia merasa tertipu dengan janji Isabell kemarin, ia juga merasa dibodohi dan di hianati oleh gadis nonik nonik itu.

“Apa yang kau maksud.. ?! sungguh kau membuat ku kecewa.. ! aku benci dengan mu”

“Bukan salahku !” Isabell membalas hantakan Satria “Itu salahmu, sejak awal kau hanya minta untuk berwujud manusia di hadapan gadis itu bukan gadis yang lain” Tutur Isabell dengan nada sinis

Apa daya Satria hanya termenung lalu bayang bayang kosong menghamipirinya. Batu terjal mungkin yang kini dihadapi Satria, selain sudah kehilangan satu hari ia juga dipusingkan bagaimana agar Enisa tak tau identitas sebenarnya. Lalu mau apa dikata, ia sudah terlanjur mengambil keputusan itu, hanya empat belas hari dan setelah itu ia harus menjadi budak keluarga Isabell.

“Kenapa. Aku mengambil keputusan ini.. ? mengapa juga aku menerima tawaran hantu sialan itu ? dan bila hari sudah habis.. lalu ?” mungkin seribu pertanyaan lagi masih belum cukup membuat Satria gusar.

Hantu bodoh itu duduk bersandar di salah satu tiang penyangga aula, diselinggi air jernih layaknya air mata manusia yang kini mengalir membanjiri hati kosong terombang ambing kegundahan. Tampak juga si rambut pirang turut andil di kesedihan Satria, namun bukan sebagai kawan yang membantu menghilangkan kegundahannya, bukan Isabell itu yang setiap harinya menemani Satria, dan juga bukan senyum itu yang setiap hari dipancarkan kepada Satria

Melainkan senyum kegirangan penuh kelicikan yang terpancar dari hantu yang sedari tadi berada di belakang Satria. Menang nampaknya yang ia dapatkan, di dalam pikirannya ia merasa berhasil atas apa yang sudah direncanakan,

“Dan kini.. aku tinggal menghitung hari, setelah semuanya berlalu.. kau akan menjadi milik ku selama lamanya My Darling” Tutur isabel di dalam hati sembari melihat Satria penuh kesenangan. Isabell merasa yakin kalau penantiannya selama ini akan terwujud,

           “Tak lama lagi, kau akan menjadi budak ku.. dan pada akhirnya kau akan ku jadikan kekasih ku Satria” Senyum tersirat terpancar kesekian kalinya dari bibir berwarna merah menyala.


- Bersambung - 

Komentar

Postingan Populer