The End of New Years Resolutions
Satu minggu
telah berlalu di tahun 2018. Banyak orang telah memulai kegiatan keseharian
mereka dengan raut muka sumringah. Seolah
perayaan tahun baru minggu kemarin adalah ajang mengisi “bensin” guna melalui
perjalanan jauh selama satu tahun berikutnya. Tahun baru, semangat baru menjadi
motto dadakan bagi para pekerja
kantoran untuk berantusisas kembali sibuk dengan rutinitasnya, begitupula dengan
siswa - siswi yang duduk di bangku
sekolah dasar, SMP, SMA sampai para mahasiswa yang kembali ke rutinitasnya
dengan motto serupa.
Keberagaman rutinitas
tersebut bersanding dengan euforia kebanyakan
orang yang menyambut tahun baru dengan energi baru. Tidak lain karena
kebanyakan dari mereka lantang meneriakan tentang “RESOLUSI”. Memang, satu minggu
berjalan setelah gegap gempita perayaan tahun baru, kata kata resolusi masih banyak
digaungkan di berbagai tempat. Entah di televisi, koran, radio, sosial media,
reklame jalan atau bahkan sahabat serta teman di sekitar kita beramai ramai
mengajak untuk ber-resolusi. Resolusi menjadi suatu hal yang sangat melekat
setiap datangnya tahun baru dan menjelma sebagai alasan untuk bersemangat di
awal tahun, bisa dibilang tahun baru kurang afdhol
jika tidak ada kata Resolusi. Bahkan seminggu sebelum tahun baru, muncul
acara bertajuk Resolution for 2018 yang
diinisiasi oleh English Club Akademi Berbagi Solo. Karenanya acara tersebut
seolah menasbihkan bahwa ber-resolusi di setiap tahun adalah suatu tradisi yang
sepaket dengan ditiupnya terompet serta nyala ribuan kembang api menyambut
tahun baru.
Lantas bagaikan
sihir, ajakan ber-resolusi yang digaungkan dimana mana merasuk ke seluruh insan
masyarakat yang mengamini sebuah perubahan agar dirinya lebih baik lagi di
tahun 2018. Sekonyong – konyong mereka
berlomba membuat daftar capaian yang ingin diraih, tentunya dengan cara,
strategi, nafsu serta semangat yang membara. Ingin tahun ini lulus kuliah,
mendapatkan jodoh, bertamasya ke negeri impian, lolos tes CPNS, peningkatan
gaji, mengurangi berat badan dan berbagai capaian lain yang bermuara pada satu
titik yakni menjadi versi diri yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Hal
tersebut sah sah saja, dan hak semua orang untuk membuat resolusi di tahun baru
yang tidak ubahnya seperti lembaran kertas putih siap untuk ditulis dengan
berbagai prestasi. Namun menulis segenap resolusi tidak mutlak
memberikan garansi bahwa capaian akan mudah diraih seperti kemudahan untuk
merancagnya. Kenyataannya, memang banyak yang berhasil namun banyak pula yang
gagal meraih cita citanya di tengah jalan.
Pada gelaran
TEDxGeorgetown, Austin Younder membawakan topik menarik yang relevan dengan tradisi
banyaknya orang melakukan resoulusi saat menyambut tahun baru, termasuk alasan kegagalan
sekelompok orang ber-resolusi. Melalui
topik yang berjudul The End of New Years
Resolutions ia menceritakan dengan gayanya yang energik, bahwa 1 dari 3
orang sebelum bulan Febuari menyerah dengan resolusi yang telah dibuatnya dan
sebelum pertengahan tahun, 4 dari 5 orang memutuskan untuk mengabaikannya. Ia lantas
memberikan 3 alasan mengapa hal tersebut mudah terjadi. Pertama adalah tidak
sistematik, maksud Austin adalah mungkin telah banyak orang menulis resolusi
untuk menurunkan berat badan, menabung lebih banyak uang di bank, lebih banyak
berolahraga, dan meningkatkan kesejahteraan uang serta kesehatannya, namun
mereka tidak menggunakan pendekatan yang sangat komprehensif untuk merealisasikannya,
yang akhirnya terjadi kegagalan. Kedua adalah, fakta bahwa sedikit atau bahkan
tidak ada orang yang membantu untuk menjaga mereka agar tetap di jalur yang
tepat untuk merealisasi resolusinya. Hal ini diperparah dengan banyak orang
yang mudah untuk melupakan dan menyerah pada resolusi yang dibuatnya. Tidak ada
teman yang menyemangati, akhrinya gagal lagi. Alasan ketiga dan menurut Austin
menjadi alasan terbesar mengapa seringkali resolusi berakhir dengan kegagalan
adalah, fakta bahwa banyak orang yang membuat resolusi hanya untuk peningkatan
dirinya sendiri, atau penigkatannya tidak dibagi dengan orang lain.
Untuk itu ia
memberikan 3 saran guna mengatasinya dan merealisasikan sebuah resolusi. Ia mengajak
untuk membuat resolusi menjadi kategori kategori yang lebih spesifik agar kita
dapat meraih tujuan kita. Seperti kategori resolusi yang menuntut untuk segera
dilakukan, kategori kesehatan, hubungan dengan teman, peningkatan keuangan,
bisnis, dan berlibur. Lalu sejumlah kategori tersebut diturunkan lagi dengan
tingkatan yang lebih detail agar dapat disadari dimana resolusi yang bekerja
dengan baik atau tidak, lalu cepat - cepat memperbaiki resolusi yang tidak
bekerja dengan baik. Untuk mengatasi persoalan kedua ia mengajak untuk membagi resolusi
yang telah ditulis kepada keluarga, sahabat dan teman terdekat. Cara ini seperti
yang ia katakan selain agar orang lain turut menjaga kita agar tetap di jalur
yang tepat, hal tersebut juga dapat menjaga hubungan dengan sahabat atau teman
kita agar tetap baik. Dan untuk menyelesaikan persoalan terakhir, Austin
mengajak untuk kita mengubah cara pandang tentang resolusi yang hanya bertujuan
untuk meningkatan hidup kita secara individu dan mengabaikan orang lain.
Menurutnya akan lebih baik apabila resolusi tidak hanya meningkatkan hidup kita
saja, namun juga meningkatkan orang lain dari berbagai aspek. Disamping itu hal
tersebut dapat memberi kita tambahan semangat untuk merealisasikan resolusi dan
menghindarkan diri kita dari sifat egois serta Individualistic.
Akhirnya pembaca yang budiman, sepekan tahun baru
berlalu dan setiap dari kita telah mendapatkan sebuah “buku kosong” yang siap
untuk ditulis dengan seluruh prestasi yang ingin kita capai. Dari tulisan
singkat ini penulis mengajak untuk kita bersama menciptakan prestasi bukan
hanya tentang kita saja, namun juga tentang peningkatan kesejahteraan kepada
teman, keluarga bahkan bangsa.
Komentar
Posting Komentar