Satria
Satria, tak henti hentinya berkeliling di sekolah yang masih diselimuti
cahaya pagi kebiru biruan, ia mencari jawaban sebab apa ia menjadi seperti ini,
setiap pagi menjelang siang ia selalu seperti itu. Ia melangkah dari lorong itu
ke lorong selanjutunya, nampak sekarang juga tak ada beda, ia masih berkeliling
tak tau arah, menyusuri bilik bilik kelas yang terlihat masih sepi.
Di sekolah itu juga ia dapati teman
nonik nonik belanda yang berwajah cantik, ia bernama Isabella, kulitnya putih
pucat, rambutnya orange dan bibirnya merah menyala, namun ia sangat anggun di
balut pakaian putih bergaya jaman dulu. Dari Isabella lah Satria tak merasa
kesepian, ia selalu menemaninya, dan layak juga kalau ia termasuk teman susah
senang Satria.
Bell berbunyi, anak anak berbaju putih abu abu mulai memenuhi setiap lorong
sekolah dan seperti biasa Satria ditemani oleh Isabella memandangi anak anak
belia itu, mereka tak mencari sesuatu, namun mereka mencari jawaban atas apa
yang sudah terjadi pada Satria. Mata Satria tiba tiba melirik kepada mahluk
cantik berkulit sawo matang, mata itu melirik gadis anggun yang sedang menunggu
temannya di toilet.
Tak henti hentinya mata Satria tertuju
pada senyum manis yang terlepas dari anak itu, sejenak waktu seakan berhenti,
pandangannya kosong terpusat pada wajah cantik itu. Ia merasa melayang
dibuat olehnya, seolah olah ia merasa jatuh cinta lagi. Gadis yang memiliki rambut sebahu, bibir
yang tipis, pipi yang menawan dan tubuh yang semampai telah berhasil membuat
satria kasmaran. Tak lama kemudian gadis itu meninggalkan toilet setalah
temanya yang didalam keluar, ia meninggalkan Satria yang masih terus
memandanginya. Seketika semua itu sirna, di kepalanya muncul pertanyaan
“apakah bisa aku jatuh cinta pada anak
manusia itu sedangkan aku sudah menjadi hantu yang sama sekali tak berwujud
manusia?” dan pertanyaan itu juga diajukan pada Isabella yang sedari tadi
berdiri di sampingnya.
“Bisa” jawab Isabella
Satria terkejut atas apa yang sudah
dikatakan Isabella, ia
bertanya kembali “Apa yang kau bilang? Bagaimana caranya kau memenuhi
permintaan ku itu” geram Satria.
Isabella pun langsung menjawab “aku
serius dengan apa yang aku bilang tadi, lewat ayah ku kau bisa berwujud manusia
tapi hanya 14 hari”
Satria masih tak percaya atas apa yang
sudah dikatakan Isabella “apakah yang kau katakan itu bisa aku percaya?”
kesekian kalinya Satria bertanya kepada Isabella.
“Benar, namun setelah empat belas hari
berlalu kau harus berjanji pada keluarga ku, kau harus berjanji akan menjadi
budak kami selama lamanya” , Satria langsung menyikapinya, ia meminta
Isabella agar menjadikan ia berwujud seperti manusia selama satu hari terlebih
dahulu “Isabella, bawalah aku ke ayah mu dan nanti pintalah ayah mu untuk
merubah wujudku selama satu hari, biar aku rasakan terlebih dahulu seperti apa
bila aku dekat dengan manusia itu”, isabella meyetujui apa yang di minta Satria, dan
pagi itu juga Isabella membawa Satria ke ayahnya.
Keesokan hari setelah perjanjian itu
terwujud, Satria memulai satu hari dengan wujud manusia, ia menggenakan baju
seperti apa yang dipakainya dahulu sebelum ia meninggal, ia mengenakan sweeter
hitam yang menyelimuti baju putih dan bercelanakan celana panjang bewarna abu
abu, ia juga memakai tas ransel layaknya anak sma pada umumnya. Berjalan
menyusuri lorong demi lorong ia mencoba mencari gadis yang ia lihat kemarin, ia
juga memasuki kelas demi kelas namun tak jua ia temui.
Satria memutuskan untuk menunggu di
toilet yang kemarin mempertemukan ia dengan gadis itu, penantian Satria pun
terwujud tak kala gadis yang kemarin ia temui muncul di hadapanya, seperti
kemarin, lagi lagi gadis itu menunggui temannya. Ia langsung mengunakan kesempatan
itu untuk mendekatinya, ia coba merangkai kata seperti layaknya manusia dan ia
jua mencoba untuk membuat gadis itu tersenyum,
“Hai, sendirian ya ?” Satria coba
memecah kehenigan
Mata sipit gadis itu memandangi satria
dengan seksama dan terucap “hei juga, kamu siapa ? Anton ya?”
“Bukan, bukan Anton.. embak disini sendirian ?”
“Oh, .. maaf mata ku min, jadinya kalo
ngeliat sedikit kabur.. enggak.. ini lagi nungguin temen ku.. kamu kelas
berapa?” sembari jari jemarinya mengusap mata sebelah kiri, dan memancarkan
senyum lugu.
“Emm.. aku.. aku.. aku.. aku anak IPA 1
!!” Hantu berwujud manusia itu menjawab dengan gugup dan di akhiri nada lantang
penuh keyakinan
“IPA 1 mana?.. aku enggak pernah liat
kamu tuh.. bohong yah?” Gadis lugu itu lagi lagi membuat satria semakin gugup
“Aku anak baru ok !! baru pindah
semester ....” Sepertinya otak satria membeku dibuatnya, tak habis pikir ia
sampai ngelantur kesana kesini tak tau apa yang mau di ucap.
“Semester berapa ?!” Jawab sang gadis
Sembari melihat nama dada, dan Satria
tau kalau ia bernama Enisa “Semester berapa ya..“ di ikuti senyum genit dari
hantu kentir itu.
Banyak canda tawa terlontar dari
obrolan itu, dan pantas jika Satria merasa sangat
nyaman bila di dekatnya, ia berpikir kalau dirinya dan gadis itu memang cocok, terlihat jelas dari obrolan
yang sedari tadi tak henti hentinya mengeluarkan canda dan riang senyum.
Obrolan singkat itu terhenti ketika temannya yang ia tunggu keluar dari toilet. Satria langsung pergi meninggalkamya,
ia tak mau jika rahasianya terbongkar.
Setelah obrolan itu berakhir Satria
merasa yakin kalau ia memang benar benar jatuh cinta kepadanya dan tanpa pikir
panjang ia langsung mendatangi Isabella.
“Isabella, tolong kau wujudkan
permintaan yang ku pinta kemarin dan aku bersunguh sunguh dengan apa yang aku
minta ini” tutur Satria dengan dada terangkat penuh keyakinan,
“apa benar kau yakin atas apa yang kau
bilang?” jawab Isabella.
“Benar !, aku berkata benar!” hentak
satria.
“Kalau itu yang kau pinta, maka
hitunglah hari demi hari yang akan kau lalui dan jangan kau lupa dengan 14 hari
yang ku minta, setelah 14 hari yang akan kau lalui kau akan menjadi budak kami
dan tak akan kembali ke alam mu, kau akan kekal bersama kami !” ,
Tanpa pikir panjang lagi Satria
menyangupi perjanjiannya dengan keluarga Isabella, ia rela menjadi budak
asalkan bisa bertemu lagi dengan Enisa, gadis yang kini ia dambakan. Suara petir terdengar
setelah perjanjian itu terwujud, sembari hujan mulai membasahi sekolah bekas
gedung Belanda.
- Bersambung -
Komentar
Posting Komentar