Satria #3
( 03 Februari 2017 , Hari ketiga, sisa 11 hari setelah
perjanjian itu )
Langkah kaki lemah gemulai menyusuri
lobi, cahaya temaram berwarna biru turut menemaninya. Kini rasa itu seakan
pudar, bagaikan singa yang tak mempunyai aungan, bagaikan burung yang terprangkap
di jeruji, tak bisa terbang bebas.
Dan kaki itu terlihat lemas megayunkan langkah demi lagkah,
jari jemari nya jua sengaja diseret di dinding kompak dengan apa yang di rasa
hati Satria. Pandangannya terlihat kosong, nampak juga pikirannya kabur tak tau
rimbanya. Seakan semua pikiran Satria masih tertuju pada polemik kemarin,
polemik yang masih tak berujung.
Hilang sudah rasa penuh keyakinan itu,
yang tersisa hanya hitungan minggu bahkan hari dimana semua itu akan jatuh pada penderitaan
yang akan di rasa, kini ia melangkah melewati anak tangga namun masih sama, masih terlihat lunglai. Langkah demi langkah ia naiki anak
tangga dan sampailah di lantai dua, Saat sampai di ujung anak tangga, ia
memutuskan untuk berbalik ke kanan dan menghitung dari angka empat ke angak
dua, barangkali ia akan dapati Enisa di angka ke dua, karena memang itu kelasnya.
Dari ujung tangga, kini Satria
melangkah ke angka empat, kemudian ke angka tiga tetapi langkahnya juga masih
seperti tadi, tangan nya juga masih sama terseret di tembok hanya yang membedekan
raut muka yang kini memancarkan wajah mengharap pertemuan yang ke dua dengan
gadis lugu itu. Dan setelah angka empat dan tiga terlewati kini mata itu
tertuju ke angka dua, langsung juga tertuju ke jendela terbuka yang nampak di
dalam ada seorang gadis berkulit putih pucat sedang duduk memandangi buku yang
ia baca.
Satria tak akan lupa dengan wajah itu,
tak tampak asing lagi baginya. Senyum itu seakan terkena cahaya pagi, berbinar
binar amat senang menyambut gadis itu.
“Hei, kemarin kok enggak masuk?” Lagi
lagi senyum itu terpancar penuh kesenangan tersirat.
Enisa sedikit keget setelah satria tiba
tiba muncul di hadapnya ,“Hah, siapa yah ?” matanya melirik tajam ke arah
pintu, mencoba mengenali wajahnya
Tanpa basa basi lagi, Satria langsung masuk menghampiri
Enisa dan lalu .. “Sendirian ya.. ? kalau berangkat jam segini.. ? Senyum penuh
kepercayaan menamani pertanyaan tertuju kepada Enisa yang kini duduk mengarah
ke hadapan Satria
“Iya, sendirian.. kamu kenapa selalu
muncul tiba tiba.. ? bikin aku kaget aja” tutur Enisa kepada Satria
“hhehehe.. aku muncul pas embak sendirian.. “ Canda
Satria. Diikuti raut muka semi idiot
“halah.. kamu kelas berapa sih.. ?” Kesekian kalinya
Enisa melontarkan pertanyaan itu
Dan kesekian kalinya itu juga muka
Satria langsung mengerut “anu.. embak gak boleh tau, embak cuman boleh tau nama
ku aja” sembari jari jemari Satria menunjuk ke arah papan tulis yang
sudah bertuliskan namanya “Satria”
“Itu siapa.. ? Namamu.. ? Oh namamu Satria..” Tak lupa ia
tunjuka senyum tipis setelah melihat tulisan di papan putih.
Lewat obrolan itulah hubungan Satria
dan Enisa semakin lengket, obrolan yang selalu berkembang dan senyum yang tak
pernah absen saat mereka bertemu, menyiratkan bahwa benar Manusia dan Hantu itu
sudah saling mengerti antara satu sama lain. Sepertinya Enisa juga merasakan
apa yang di rasa Satria, ia jatuh cinta kepada Satria. Dan kini pasangan itu
makin serasi, terlihat keduanya saling nyaman.
Sedangkan Isabell terlihat tak suka
melihat obrolan Satria dan Enisa, ia berdiri di pojok kelas tanpa sepengetahuan
pasangan itu. Mukanya memerah dan terlihat dahinya mengerut yang menyiratkan
bahwa ia sedang terbakar cemburu. Tak tahu apa yang ia pikirkan kali ini, mungkin juga ia sedang memikirkan seribu
cara memisahkan hubungan Satria dan
Enisa yang semakin menjadi jadi.
Obrolan yang disaksikan Isabell itu pun
berhenti tak kala datang seorang pria yang seketika langsung memasuki kelas..
Satria lalu menghilang meninggalkan gadis itu, ia takut jikalau jati dirinya
terbongkar. Tetapi raut mukanya menandakan jika ia amat senang dengan obrolan
singkat tadi, obrolan yang amat singkat namun bermakna dalam bagi Satria.
- Bersambung -
Komentar
Posting Komentar