Satria #7 End
( 12 Februari 2012 , Hari keduabelas, dua hari sebelum
hari H)
Cahaya pagi yang terang menyelimuti
sekolah, air yang berada di kolam terlihat amat jernih berkaca kaca. Terlihat
pula sepasang burung yang mesra bertenger di salah satu pohon matoa dekat aula,
burung itu juga yang sedari tadi memanjakan mata Satria, mungkin dilamunannya
ia ingin seperti burung itu. Bisa terbang bebas, dan bebas pula mencari
tambatan hati.
Berbanding terbalik dengan apa yang
dialami oleh Satria, kini ia seakan terkekang tak bisa memenuhi apa yang ia
mau. Polemik terus datang menghampiri hantu malang itu yang terakhir dan
teramat menguras batinnya adalah polemiknya dengan Enisa. Kenyataannya ia belum
menemukan cara terbaik untuk meninggalkan gadis belia itu. Sementara matanya
melihat sepasang burung yang semakin mesra di ranting pohon disusul helaian
nafas panjang.
Ia coba tenangkan diri di keheningan
pagi, dari luar memang ia tak terlihat sedang mendapatkan masalah, namun di
dalam relungnya ia sedang memikirkan masalah kemarin yang masih belum menemui
titik temu.
Keheningan yang damai itu terpecah tak
kala datang Isabell dari belakang Satria..
“Bingung.. ? Sadarlah waktumu
kian habis..” Isabell berbisik menganggu lamunan Satria Aku tau kau sangat
mencintai gadis itu.. tapi sadar dirilah kau ini sudah mati !” Suara yang tadi
berbunyi lirih berubah menjadi ejekan yang kian mengusik Satria.
Namun Satria tak memperdulikan
kehadiran Isabell, ia masih sibuk dengan lamunannya. Ia juga tak mengerluarkan
sepatah katapun saat Isebell mencoba menganggunya.
“Satria.. Satria.. Satriaa...
Satriaaaa.... !!!” lagi, Isabell berteriak memancing amarah Satria “Dengar dan
ingatlah waktumu hanya tinggal hari ini dan besok.. ! ingat itu ! hahahaha ”
Senyum itu diikuti nada tertawa girang penuh kesenangan.
Tetapi amarah Satria tak terpancing, ia
menjawab “Aku akan memenuhi janji ku kepadamu.. tak akan kuingkari janji yang
aku buat sendiri” Isabell terkejut, ia heran mengapa Satria bisa setenang itu,
“Bahkan kau tak perlu menunggu hari keempat belas untuk memilikiku.. karna
sekarang juga aku akan mengakhirinya” tutur Satria penuh kelembutan sembari
meninggalkan hantu nonik itu dan menuju ke kelas Enisa.
Isabell amat terkejut atas apa yang
diucap oleh Satria, mulutnya seketika kaku tak bisa mengeluarkan sepatah kata.
Berbeda dengan Satria, kini sang hantu laki laki itu menunggu kedatangan Enisa
persis seperti biasanya hanya yang membedakan ia mengengam dua lembar kain yang
berwana hitam dan merah.
Dan setelah lama menunggu di dalam
kelas penantian itu terbayar sudah, kini Enisa sedang berdiri persis di depan
pintu sedangkan Satria duduk manis di bangku kesayanganya. Enisa menghampiri
hantu berwujud manusia itu, ia berjalan lembut kehadapannya.
Tetapi “Berhenti di situ..”
“Apa.. ? Disini.. ? Kenapa Satria.. ?” Enisa
bertanya karna jelas ia tak tau apa yang di maksud Satria
“Sekarang kau pilih diantara dua kain
berwana hitam dan merah ini.. jika kau suka padaku pilih lah warna merah namun
jika kau tak suka padaku pilihlah warna hitam” Tutur Satria sembari menunjukan
dua helai kain yang sedari tadi dibawanya.
Sebenarnya Enisa dapat dengan mudah
menjawab pertanyaan Satria, namun yang menyulitkannya adalah harus memilih
diantara salah satu kain itu sedangkan pengelihatannya amat buruk, dari
posisinya berdiri ia tak akan mungkin bisa melihat dengan jelas dua helai kain
itu malah yang terlihat hanya dua kain persis berwarna hitam tak ada beda.
Enisa coba mengangkat kaki kanannya dan bergerak maju menuju Satria.
“Tunggu.. jika kau bergerak lebih dari
itu, aku angap kau tak benar mencintaiku.. aku bersunguh sunguh kali ini”
Secepat itulah Satria membuat Enisa
makin bingung, kini gadis itu dihadapi pilihan yang amat sulit, melangkahkan
kaki ataukah hanya berdiri dan memilih diatara dua kain itu. Namun ia tak
memilih diantara argumen yang muncul di kepalanya, ia memilih untuk memejamkan
mata dan menunjuk kan jari ke salah satu kain yang ditunjukan Satria. “Aku
memilih kain yang ada di tangan kirimu, aku memilih warna merah.. karna aku
benar benar mencintaimu Satria" tutur lembut gadis itu masih matanya belum
terbuka.
“Kemarilah.. Dan jangan kau buka kedua
mata mu itu” Jawab singkat Satria
Enisa menghendaki apa yang diminta oleh
Satria, ia maju menghampirinya “Peganglah kain ini lalu bukalah matamu”
Enisa terkejut tak kala ia memegag kain
yang berwana hitam “Inilah kain yang kau pilih tadi, dan artinya kau tak benar
mencintai ku, aku benci padamu” Satria membisikan kata kata itu ke telinga
Enisa sembari tubuhnya mulai mencoba meningalkannya.
Tubuhnya kaku, tangan kirinya memegang
kain hitam, kini ia berdiri sendiri di kelas itu sedangkan Satria sudah berada
ditempat lain. Enisa tak percaya jika ia sudah memilih kain yang berwana hitam,
ia yakin pada dirinya jika tadi ia memilih kain yang berwana merah. Hening
kelas menemani tetes demi tetes air yang mengalir dari mata gadis lugu itu.
Dan juga tak berbeda jauh dengan apa
yang dirasa oleh Satria, ia kini bersandar di salah satu tiang penyanga aula.
Matanya bekaca kaca, ia seakan amat bersalah sudah menyakiti perasaan Enisa.
Tapi ia tak mau larut lebih dalam lagi, ia sadar jika pilihannya itu tepat.
“Sudahkah kau mengakhirinya.. Maafkan
aku Satria” Suara lembut tiba tiba muncul dari belakang Satria, tak asing lagi
itu adalah suara Isabell.
“Tak apa.. ini kan yang kau mau” Jawab
Satria sembari mengusap air yang keluar dari matanya “Aku sudah menyakiti wanita
itu, dan sekarang aku mohon ubahlah aku kebentuk asliku” pinta
Satria
“Tu.. tu.. tunggu Satria, aku ingin
menceritakan sesuatu padamu”
“Cerita apa !? cepatlah ! aku sudah
muak dengan wujud seperti ini..” Bentak Satria tak sabar lagi.
Isabell pun seketika menyangupi
permintaan Satria, “Sudah, kini kau sudah kembali ke wujud sebenarnya” tutur
Isabell setelah ia kembalikan wujud asli Satria
“Terimakasih atas kesenangan sesaat
yang kau beri kemarin” Senyum Satria coba untuk melupakan Enisa.
“Satria.. sebenarnya aku ingin kau tau
sesuatu hal, mungkin ini terlihat tak masuk akal” Sembari kedua tangan Isabell
memeluk Satria dari belakang.
“Apa, cepatlah bilang tak usah sungkan
padaku” Dibalas senyum manja yang tersirat dari wajah Satria.
“Gadis itu dulunya adalah pacarmu..”
Seketika kemesraan itu pecah tak kala
Satria mendegar ucapan Isaebell “Apa kau bilang..?!” Tangannya menghempaskan
Isabell ke depan “Kenapa selama ini kau tak pernah bilang padaku ?!” Amarah
Satria kian memuncak.
“Maafkan aku Satria” Jawab Isabell,
Satria lari meninggalakn Isabell dan
menuju ke kelas Enisa, dan sesampai di kelas itu ia lihat wajah Enisa yang
tampak amat sedih. “Enisa.. hei Enisa, aku disini !” namun Enisa tak
menyadari kehadiran Satria walaupan ia teramat dekat dengannya. Kini yang ada
hanya tangis haru yang terpacar dari wajah Satria, berulang kali ia memangil
nama Enisa namun usahanya tak jua berhasil
Walaupun ia sudah bersujud menghadap ke
arah Enisa, walaupun ia sudah berteriak kencang memangilnya namanya namun semua
usaha itu tak membuahkan hasil, tangis kencangnya juga tak sediktpun membuat
Enisa sadar akan kehadirannya, di tanganya juga masih mengengam sehelai kain
hitam pemberian Satria. Tangis haru tak terbendung di kelas itu sampai Isabell
menghampiri Satria
“Kalain dulu adalah sepasang kekasih
yang amat mesra, setiap pagi kalian mengumbar senyum, kalian adalah sepasang
kekasih yang saling menyayangi” sembari tangan Isabell menepuk pundak Satria
coba menenangkannya “Sepasang burung mesra yang sering kau lihat itu, mungkin
sama persis seperti kemesraan kalian dahulu, tetapi kejadian itu nampaknya
merusak kebahagiaan kalian”
“Satria.. akan aku ceritakan sebab apa
kau bisa mati.. “ sembari memandang Satria yang kini mulai tenang “Dulu terjadi
polemik diantara kalian, gadis mu amat dekat dengan salah satu laki laki di
kelasnya, karena kecemburanmu itu kau putuskan untuk mengroyok laki laki yang
dekat denga gadis mu. Tapi saat kejadian itu tiba, temanmu tak datang, temanmu
tak mau kau ajak membunuh laki laki itu”
Satria berdiri lalu mencoba
mendengarkan cerita Isabell “Di toilet dekat aula kau sendirian melawan laki
laki itu dan teman temannya, dan karena kau sendirian akhirnya kau kalah”
“Siapa yang membunuhku ?!” lalu wajah
Satria memerah
“Bukan laki laki itu yang membunuhmu,
melaikan kau sendiri”
“Apa ?” Jawab Satria
“Sebenarnya laki laki itu tak berniat
untuk membunuh mu, malah ia ingin menjelasakan apa yang sebenarnya sudah
terjadi, tapi saat itu amarah mu memuncak dan tak terkandali, aku lihat dengan
mata kepalaku sendiri”
“Jadi sebab apa aku bisa mati? Langsung
ke intinya ” geram Satria
“Kau mengambil pisau yang ada di saku mu, lalu kau coba utuk menusukannaya ke
laki laki itu tapi sayang ia berhasil menepisnya lalu menusukannya kepadamu,,
dan pada saat itulah aku lihat arwah mu sudah mulai naik”
“laki laki itu hanya teman
sepermainannya.. Satria, tak
lebih.. Rasa cemburumu itulah yang membuat mu menjadi seperti ini” Kembali
tangan Isaebell menepuk punggung Satria.
Wajah Satria amat tak percaya atas
cerita yang baru saja ia dengar, namun ia menghela napas dan berkata “Yah
sudah, semuanya sudah terjadi.. tak bisa aku putar lagi” tutur Satria setelah
mengelaurkan nafas panjang
“Iya, ayo kita tinggalkan gadis ini
sendirian” Sembari kedua hatnu itu menatap
ke arah Enisa yang masih menangis.
“Tunggu sebentar.. tolong kau hapuskan
ingatannya saat bersamaku.. aku tak tega jika harus meninggalkannya seperti
ini” Pinta satria untutk yang terakhir kalinya
Isabell mewujudkan apa yang dimintanya,
Ia hapus kenangan saat dimana gadis itu bertemu dengan Satria setiap pagi.
“Sudah ?” tanya Satria kepada Isaebell
“Sudah.. dan kain hitam itu ?”
“Biarkan.. biarkan gadis itu
menyimpannya sebagai kenangan” Sembari pasangan itu meninggalkan Enisa sendiri
di kelasnya
3 bulan setelah perjanjian itu usai
Kini Satria dan Isabell hidup kekal di
sekolah bekas belanda itu, Satria tak menjadi budak keluarga Isabell melaikan
menjadi pasangan seumur hidup bagi gadis nonik nonik itu. Dan kini mereka
terlihat mesra menyusuri lorong sekolah, setiap hari pasangan itu berkeliling
melihat lihat semua sudut sekolah
Dan dengan Enisa, Ia masih seperti itu
tak ada beda mungkin yang membedakan hanya ia tak ingat dengan nama Satria
kerena jelas Isabell sudah menghapus ingatannya. Ia kembali ke kehidupannya sebelum
mengenal Satria
-
TAMAT -
Komentar
Posting Komentar