Lingkungan
Entah
sejak kapan aku mulai memiliki pandangan seperti ini, “Dik ada dua pilihan yang
nanti kamu akan bisa pilih ketika kamu bertemu dengan seseorang, entah itu
teman baru, teman lama, orang yang lebih muda darimu atau orang yang lebih tua
darimu, pilihannya adalah satu jika kamu memilih berbicara kamu bakal punya
kesempatan untuk berbagi ilmu yang kamu telah memiliki, kemudian pilihan kedua
adalah mendengarakan, kalau kamu memilih mendengarkan, kamu bakal punya
kesempatan untuk mendapatkan ilmu baru, pengalaman baru dan prespektif baru
yang mungkin akan membuka wawasan mu lebih lebar lagi, udah kamu pilih keduanya
itu dan enggak usah takut, karena semuanya sama sama untung”
Begitulah
pandangan yang selalu menyertaiku, menemaniku dimanapun dan kapanpun saat
bertemu dengan seseorang, tak terkecuali
ketika bertemu dengan narasumber skripsi. Minggu kemarin kembali aku
mendapatkan wawasan baru ketika bertemu dengan teman baru, inilah yang membuat
aku selalu merasa antusias untuk bertemu dengan orang orang baru itu, dapat
wawasan baru!. Beliau adalah narasumber kesekian yang membicarakan tentang pola
asuh anak, topik utama yang aku angkat di skripsi ku, dari sekian narasumber
orang tua yang aku wawancarai mereka memiliki pola asuh yang berbeda beda
merujuk kepada putra putrinya yang memiliki kepribadian berbeda beda, setiap
dari mereka menyikapi dengan baik sesuai perannya sebagai orang tua dan selalu
ada kata mutiara yang selalu aku dapat dari setiap certinya.
Mutiara,
nama cantik yang aku kenal ketika masa SMA, namanya secantik kepribadian dan
senyumnya, dia kakak kelasku, sampai saat ini aku puas mengaguminya dalam diam
walau tidak menutup kemungkinan aku ingin bertemu kembali dengan dia. Tidak
tidak ! tidak !. ini bukan mutiara itu, bukan. Balik konsentrasi dik!.
Iya
aku katakan “kata mutiara”, karena aku perlu untuk menyelam lebih dalam lagi
untuk menemukannya, tanpa usaha meluangkan waktu, memilih topik skripsi ini,
bersusah payah mengalokasikan jadwal, buag jauh jauh rasa malu dan tanpa aneka
ragam usaha lainnya aku mungkin tidak akan mendapatkan mutiara mutiara itu,
begitulah. Tapi mungkin aku tidak akan pernah merasa seberuntung ini jika Ibu
itu tidak menceritakan tentang kiatnya mendidik anak. Anaknya lulus dari salah
satu SD swasta di Kota Solo, dia lulusan SD yang sudah lama menerapkan praktek
jam seperti Full Day School, berangkat
pagi dan pulang sore, setiap hari. Sehingga ketika Full Day School ini diterapkan baik ibu dan anaknya tidak merasa
ada hambatan, semuanya sama saja, bahkan Ibu itu merasa tidak ada sosialisasi Full Day School di sekolahnya, padahal
ada. “Ada to mas? Lah saya kira tidak
ada, mungkin ya karena udah biasa Full Day School sejak SD ya jadi waktu ada
Full Day School jadi enggak ngerasa”
Tapi
sebelum beliau memasukan anaknya di SMP 1, anaknya memiliki syarat yang harus
ibu itu turuti, dia tidak mau di tekan untuk mendapatkan ranking satu, dua atau
tiga, tidak mau, dia sama sekali tidak mau ditekan perihal nilai, sama sekali.
Karena sejak awal putrinya sudah tidak punya keinginan untuk masuk di SMP itu,
dia ingin masuk di SMP 9, tebak karena apa, karena teman temannya. Teman
temannya kebanyakan masuk di SMP 9 kemudian dia ingin masuk di SMP 9 juga,
wow!. Tapi ibunya sadar jika nilai putrinya lumayan bagus, jadi merasa maneman jika tidak dimasukan ke SMP 1
sekalian, maka dimasukannlah anak itu ke SMP 1 dengan syarat dari anaknya,
tidak mau ditekan untuk urusan akademik. Ibunya tidak merasa keberatan dengan
syarat itu, malah dia menganggap angin lalu yang nanti akan cepat berlalu.
“Yaudah mas saya turutin syarat itu mas
akhrinya, saya tidak pernah menekan dia untuk dapat nilai berapa gitu, sama
sekali tidak pernah mas, untuk urusan akadmik ya saya percaya sama anak itu,
wong nilainya dari SD udah bagus bagus kok mas, tapi saya bilag kamu nanti
paling kebawa sama lingkunganmu, masa iya temen mu dapat nilai bagus bagus
terus kamu mau diem aja, kan enggak mungkin”
“Lah ibu bilang seperti itu ke putri ibu?”
“Tidak mas, ya saya bantin saja, maksudnya
ya nanti paling begitu kan kedepannya”
Betul sih apa yang dibilang beliau, lingkungan
atau teman teman sebaya yang ada di sekitar anak itu yang kemudian akan
mengantar anaknya “akan jadi apa”, kemudian beliau memberikan contoh contoh
lain soal anak yang mulannya baik menjadi tidak baik karena “Lingkungan” dan
ibu itu benar benar memenuhi syarat yang diberikan oleh anaknya, tidak pernah
menekan untuk akademik, nasihat paling paling cuman moral dan moril agar selalu
pamitan kalau pergi kemana saja, kemudian karena anaknya belum cukup umur
enggak diperbolehkan pergi ke mall, pergi kemana saja boleh asalkan bilang dan
asalkan nanti yang ngantar ibunya. Controlling tetap diberlakukan setiap hari
lewat menemani putrinya belajar, menanyakan keseharian putrinya saat sekolah
dan memberikan nasihat ketika mau berangkat sekola. “Sekolah yang rajin, guru mengajar didengarkan jangan ramai sendiri”. Begitulah
ceritanya, singkat cerita anaknya tersebut dapat mengikuti pelajaran dengan
baik, hal yang dirisaukan anak itu jika nanti tidak bisa mengikuti pelajaran pun tidak terjadi malahan ibunya sudah
cukup senang jika anaknya setiap kali diberikan nasihat selalu nurut selalu mau dan tidak pernah
membangkang.
Secuil
cerita baik dari proses pengerjaan skripsi yang kali ini membicarakan perihal
lingkungan. Lingkungan yang baik akan membawa mu ke tempat yang baik, seperti
halnya jika dipertemukan dengan teman teman yang sibuk untuk berkarya maka kamu
paling tidak memiliki hasrat entah sekecil apapun itu untuk ikut ikut berkarya,
entah sekecil apapun itu kamu ingin membuktikan kalau kamu itu bisa juga, entah
sekecil apapun itu kamu ingin ke luar negeri, ingin lanjut kuliah S2, ingin
bersibuk ke kegiatan kegiatan positif dan lain lainnya yang semua disebabkan
karena teman disamping kanan kirimu melakukannya.
Komentar
Posting Komentar